-->

Perawatan Berkala dan Perbaikan pada Unit Kopling

Selamat Bertemu kembali, Sobat labtech.my.id. Kali ini saya akan menyampaikan materi terbaru dan lumayan penting dalam dunia mobil. Karena setiap pengguna kendaraan akan selalu berhadapan dengan masalah kopling. Apa yang akan anda pahami pada materi ini? Pada kesempatan kali ini kita akan membahas materi tentang "Perawatan Berkala dan Perbaikan pada Unit Kopling" sebagai berikut.
A. Perawatan Berkala pada Kopling
B. Analisis Gejala Kerusakan pada Kopling
C. Perbaikan pada Kopling

A. Perawatan Berkala pada Kopling

Tujuan perawatan berkala pada unit kopling yaitu agar kopling dapat berkerja optimal mencapai fungsi kerjanya. Seiring pengunaan dan jarak tempuh dari kendaraan maka unit kopling perlu dilakukan perawatan berkala setiap 5000 km, 10.000 km, 15.000 km ataupun merujuk buku service kendaraan. Berikut ini perawatan berkala yang dilakukan pada unit kopling.
  1. Pada sistem pengoperasian kopling hidrolik, maka perlu mengecek ketinggian minyak kopling di reservoir pada master silinder. Jika ketinggian levelnya di bawah full, maka tambahkan minyak kopling DOT 3 atau DOT 4 sesuai yang tertera pada tutup reservoir.
  2. Jika sistem pengoperasian tipe mekanisme kabel, maka yang diperlukan penyetelan ketinggian pedal kopling dengan  cara menyetel kembali setelan pada adjuster pada pedal dan adjuster bagian bawah yang terkait dengan garpu pembebas.
  3. Mengecek performa ketebalan kampas kopling dengan cara rem tangan diaktifkan, pastikan di depan kendaran tidak kosong, kemudian masukkan gigi satu tanpa di gas. Jika setelah hentakan mesin mati, maka kampas piringan kopling masih tebal, sedangkan jika kendaraan masih jalan pelan berarti kampas piringan kopling tipis dan perlu dilakukan perbaikan untuk mengganti kampas piringan kopling.
  4. Mengecek fungsi pegas diafragma yaitu dengan cara menginjak pedal kopling kemudian dilepas. Jika gaya tolak pedal cepat maka kondisi diafragma spring masih bagus. Namun jika gaya tolak pedal kopling pelan atau lemah maka kondisi diafragma sudah kurang bagus dan perlu dilakukan perbaikan dengan menganti yang baru.

B. Analisis Gejala Kerusakan pada Kopling

Tujuan dilakukan analisis atau diagnosis kerusakan kopling adalah agar tindak perbaikan yang dilakukan tepat sesuai kerusakan pada kopling. Sebelum mempelajari analisis gejala kerusakan pada kopling terlebih dahulu kita harus memahami kondisi kopling yang baik. 

Ciri-ciri kopling yang tidak rusak antara lain sebagai berikut.

  1. Gaya tolak pedal kopling bagus menunjukan pegas diafragma masih kondisi bagus.
  2. Ketika mesin hidup ketika pedal kopling diinjak tidak ada bunyi dan kendaraan tidak melaju.
  3. Ketika mesin hidup ketika pedal kopling tidak diinjak tidak ada bunyi dan kendaraan dapat melaju.
  4. Daya cengkram kopling bekerja pada perfoma bagus. Anda dapat mengecek ketebalan kampas kopling tanpa dibongkar dengan cara rem parkir diaktifkan dan mesin dinyalakan, masukkan transmisi manual ke roda gigi 1 tanpa pedal gas diinjak, lepas pedal kopling. Apabila mesin mati maka kondiri kopling masih mencengkram dengan bagus karena kampas piringan kopling masih tebal.
  5. Ketika mesin hidup, posisi netral, dan pedal kopling dilepas. Tidak ada bunyi ketika pedal gas diinjak pada putaran mesin menengah ataupun putaran mesin tinggi.
analisis kerusakan cara kerja kopling

Analisi gejala kerusakan pada kopling antara lain sebagai berikut.

  1. Gaya tolak pedal kopling lemah maka anailis kerusakan menunjukan pegas diafragma sudah tipis.
  2. Ketika mesin hidup ketika pedal kopling diinjak ada bunyi maka kemungkinan release bearing sudah kocak ataupun dapat juga torsion spring dumper lepas.
  3. Ketika mesin hidup ketika pedal kopling tidak diinjak tidak ada bunyi maka kemungkinan  pilot bearing aus atau juga bearing pada transmisi manual ada yang aus.
  4. Pengecekan kondisi kampas piringan kopling dengan cara rem parkir diaktifkan dan mesin dinyalakan, masukkan transmisi manual ke roda gigi 1 tanpa pedal gas diinjak, lepas pedal kopling. Apabila mesin tidak mati maka kondiri kampas kopling sudah tipis dan harus ganti.
  5. Ketika mesin hidup, posisi netral, dan pedal kopling dilepas. Tidak ada bunyi ketika pedal gas diinjak pada putaran mesin menengah ataupun putaran mesin tinggi.
  6. Jika pedal kopling tidak ada gaya tolak sama sekali maka kabel kopling lepas atau putus (jika pengoperasian sistem kabel) dan dapat juga ada kebocoran pada selang, master cylinder, release cylinder (jika sistem pengoperasian hidrolik).


C. Perbaikan pada Kopling

Perlakuan over haul perbaikan kopling ditempuh jika kopling mengalami kerusakan pada piringan kopling, bantalan pembebas, dan tutup kopling. Selanjutnya  dapat dilakukan penggantian piringan kopling (clutch disc), tutup kopling (clutch cover), dan bantalan pembebas (release bearing).

> Langkah-langkah melepas unit kopling antara lain sebagai berikut.

  1. Melepas poros propeler shaft (jika ada) dengan cara melepas baut dan skrup pada flange yoke dengan companion flange dan melepas baut pada dudukan center bearing.
  2. Melepas sistem pengoperasian kopling.
  3. Melepas unit transmisi manual dengan cara melepas semua baut yang mengait antara transmisi dengan mesin. 
  4. Melepas tutup kopling (clutch cover). 

>> Langkah-langkah pemeriksaan unit kopling antara lain sebagai berikut.

  1. Mengecek kondisi permukaan kampas piringan kopling secara visual, jika ada retak maka ganti piringan kopling dan tidak usah dilakukan pengukuran lebih lanjut. Namun jika tidak ada keretakan lakukan pengukuran lebih lanjut.
  2. Mengecek kondisi permukaan plat penekan pada tutup kopling, jika ada retak maka ganti tutup kopling dan tidak usah dilakukan pengukuran lebih lanjut. Namun jika tidak ada keretakan lakukan pengukuran lebih lanjut.
  3. Mengecek kondisi kedalaman paku keling (rivet) dan ketebalan piringan kopling (clutch disc). Hasil kedalaman paku keling dan ketebalan kampas kopling dapat merujuk manual service sesuai tipe dan merek kendaraan. Umunya untuk kedalaman paku keling tidak boleh kurang dari 0,3 mm sedangkan ketebalan piringan kopling 5,9 mm. Jika hasilnya tidak standar maka piringan kopling diganti atau cukup mengganti kampas (facing) kemudian dikeling kembali.
  4. Memeriksa keolengan piring kopling dengan dial indikator dan dudukan runout. Hasil keolengan (runout) tidak boleh melebihi 0,7 mm. Jika sulit memeriksa runout, dapat juga dilakukan dengan menempelkan piringan kopling dengan tutup kopling yang masih bagus. Apabila ada celah yang terlihat antara kampas kopling dengan plat penekan, maka piringan kopling harus diganti walaupun kampas kopling masih tebal. 
  5. Memeriksa kedalaman keausan pada pegas diafragma (diaphragm spring). Hasil tidka boleh melebihi 0,6 mm.
  6. Memerikasa perbedaan ketinggian bilah-bilah pada pegas diafragma (diaphragm spring). Hasil perbedaan ketinggian tidak boleh melebihi 1 mm
  7. Memeriksa kerataan permukaan plat penekan pada tutup kopling menggunakan straight edge dan feeler gauge. Hasil celah tidak boleh melebihi 0,3 mm
  8. Memeriksa kekocakan bantalan pembebas (release bearing). 

>>> Langkah-langkah pemasangan unit kopling antara lain sebagai berikut.

  1. Lumasi poros input dengan gemuk atau grace
  2. Lumasi clutch hub pada piringan kopling (clutch disc), sedangkan permukaan kampas (facing) dan plat penekan tidak boleh terkena pelumas jadi harus benar-benar kering.
  3. Memasang piringan kopling dan tutup kopling menggunakan center clutch. 
  4. Mengencangkan baut yang mengaitkan tutup kopling dengan fly wheel menggunakan kunci momen dengan spesifikasi menyesuaikan manual book tipe dan merek kendaraan. 
  5. Memasang unit transmisi dan sistem pengoperasian kopling.
  6. Memasang poros propeler (propeller shaft) (jika ada).

Mudah-mudahan artikel "Perawatan Berkala dan Perbaikan pada Unit Kopling" bermanfaat bagi Sobat labtech.my.id.
LihatTutupKomentar